Ajaran Syekh Siti Jenar “tidak sesat”

Pandangan bahwa ajaran Syekh Siti Jenar “tidak sesat” biasanya datang dari perspektif Tasawuf Falsafi atau mistisisme Islam yang lebih dalam. Dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa, sosok ini memang kontroversial karena ajarannya dianggap bertabrakan dengan syariat yang ditegakkan oleh Wali Songo.

Berikut adalah beberapa argumen mengapa sebagian kalangan menganggap ajaran beliau sebenarnya memiliki kebenaran spiritual, meskipun disalahpahami:

1. Konsep Manunggaling Kawula Gusti

Konsep ini sering disalahartikan sebagai “Manusia menjadi Tuhan”. Namun, dari sisi tasawuf, ini adalah ekspresi dari Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud).

  • Makna Sebenarnya: Bukan berarti zat manusia berubah jadi zat Tuhan, melainkan hilangnya ego manusia sehingga yang terpancar hanyalah sifat-sifat Tuhan.

  • Analogi: Seperti besi yang dibakar api; besi tetap besi, tapi ia memiliki sifat panas dan cahaya api.

2. Sangkan Paraning Dumadi (Asal dan Tujuan)

Syekh Siti Jenar mengajarkan bahwa hidup di dunia justru merupakan “kematian”, karena jiwa kita terbelenggu oleh nafsu dan raga.

  • Kematian Sesungguhnya: Menurut beliau, kematian fisik adalah pintu menuju “kehidupan yang nyata” (kembali ke Tuhan).

  • Relevansi: Hal ini sejalan dengan hadis Nabi: “Mutu qabla an tamutu” (Matilah kalian sebelum kalian mati secara fisik), yang merujuk pada mematikan hawa nafsu.

3. Esensi di Atas Formalitas

Banyak yang menganggapnya sesat karena beliau dianggap meremehkan salat atau puasa secara lahiriah. Namun, pembela ajaran ini berpendapat:

  • Beliau menekankan Hakikat (makna dalam) daripada sekadar Syariat (tata cara fisik).

  • Bagi beliau, menyembah Tuhan tidak cukup hanya dengan gerakan badan, tapi harus dengan kesadaran penuh bahwa tidak ada jarak antara penyembah dan yang disembah.


Mengapa Beliau Tetap Dihukum?

Meski ajarannya dianggap memiliki kedalaman spiritual, Dewan Wali Songo memutuskan untuk menghukum beliau bukan karena ajarannya salah secara total di mata Tuhan, melainkan karena alasan sosial dan politik:

  1. Kesiapan Masyarakat: Masyarakat awam saat itu baru saja memeluk Islam. Mengajarkan konsep Manunggaling Kawula Gusti dikhawatirkan membuat orang berhenti menjalankan syariat (seperti salat 5 waktu) karena merasa sudah “satu dengan Tuhan”.

  2. Stabilitas Negara: Di masa Kesultanan Demak, ketaatan pada hukum agama adalah dasar ketaatan pada negara. Ajaran Syekh Siti Jenar dianggap bisa memicu pembangkangan terhadap otoritas Sultan dan para Wali.

Catatan Penting: Dalam dunia tasawuf, pengalaman Syekh Siti Jenar sering disebut sebagai kondisi Jadzab atau Fana—suatu keadaan di mana seseorang begitu mabuk dalam cinta kepada Tuhan sehingga ucapan-ucapannya sulit diterima oleh logika hukum (Fikih).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.