DETIK TERAKHIR SANG PENDAKWAH “MANUNGGALING KAWULA GUSTI”

Malam itu, di tengah heningnya Kesultanan Demak, sebuah takdir besar akan digenapi. Syekh Siti Jenar berdiri tegak, siap menjemput kekasih sejatinya. Keris terhujam, namun… raga sang Syekh mengeras bagai besi. Tak ada luka, tak ada darah. Tusukan kedua, raga itu seketika menghilang. Fana. Ia membuktikan bahwa dunia hanyalah bayangan, dan hanya Dia-lah Yang Nyata. Namun, ia kembali hadir untuk menunjukkan sebuah rahasia. Pada tusukan ketiga, darah merah mengalir berganti dengan darah putih… simbol penyatuan jasad dan ruh yang telah sempurna  Saat para Wali berkata: ‘Matilah engkau seperti cacing,’ Sang Syekh tersenyum dalam ketunggalan. Ia memilih jalan ‘paling rendah’ demi martabat yang ‘paling tinggi’ di hadapan Ilahi. Seketika, maut menjemput dalam rupa yang paling indah. Bukan bau anyir darah yang tercium, melainkan semerbak wangi melati yang memenuhi angkasa. Syekh Siti Jenar tidaklah mati, ia hanya pulang ke dalam kemanunggalan. Karena bagi sang pecinta, kematian adalah pintu menuju pertemuan yang abadi. Saya Harley Prayudha, mari kita belajar mati… sebelum benar-benar mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.