Imam Syafi’i (767–820 M) adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Islam, khususnya bagi kita di Indonesia. Beliau bukan sekadar “nama mazhab”, tapi adalah sosok jenius yang menyatukan berbagai pola pikir hukum Islam pada masanya.
Berikut adalah profil singkat yang akan membantu Anda mengenal siapa beliau sebenarnya:
1. Nasab yang Mulia
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Yang menarik, beliau berasal dari suku Quraisy dan nasabnya (garis keturunan) bertemu dengan Nabi Muhammad SAW pada kakek buyut yang bernama Abdu Manaf. Jadi, beliau masih merupakan kerabat jauh Rasulullah.
2. Kisah Masa Kecil: Yatim dan Miskin
Meskipun keturunan bangsawan Quraisy, Imam Syafi’i lahir di Gaza, Palestina, dalam keadaan yatim dan sangat miskin.
Ibunya membawanya ke Mekkah saat usia 2 tahun agar tidak kehilangan jati diri kesukuannya.
Karena tidak punya uang untuk membeli kertas, beliau sering menulis hafalan hadis dan pelajaran di atas tulang-belulang kering atau potongan kulit kayu.
3. Kecerdasan Luar Biasa
Beliau dikenal sebagai “Manusia dengan Memori Fotografis”.
Usia 7 tahun: Sudah hafal Al-Qur’an 30 juz.
Usia 10 tahun: Menghafal kitab Al-Muwatta (kumpulan hadis karya Imam Malik) hanya dalam waktu singkat.
Usia 15 tahun: Sudah diizinkan oleh gurunya untuk mengeluarkan fatwa sendiri.
4. Sang “Penengah” (Nashirus Sunnah)
Sebelum Imam Syafi’i muncul, dunia Islam terbagi dua dalam hal hukum:
Ahli Hadis (Madinah): Sangat terpaku pada teks hadis.
Ahli Logika (Irak): Banyak menggunakan akal dan kias.
Imam Syafi’i datang dan menggabungkan keduanya. Beliau menciptakan ilmu Ushul Fiqh (metode cara mengambil hukum dari Al-Qur’an dan Hadis). Karena jasanya membela dan merapikan kedudukan hadis, beliau dijuluki Nashirus Sunnah (Pembela Sunnah).
Mengapa Mazhab Syafi’i Sangat Kuat di Indonesia?
Ada alasan historis yang kuat mengapa kita di Indonesia mayoritas bermazhab Syafi’i:
Jalur Masuknya Islam: Para saudagar dan ulama dari Hadramaut (Yaman) dan Gujarat (India) yang membawa Islam ke Nusantara mayoritas bermazhab Syafi’i.
Kecocokan Karakter: Mazhab Syafi’i dianggap sangat moderat, sistematis, dan mudah diterima oleh budaya masyarakat Melayu-Nusantara.
Lembaga Pendidikan: Hampir seluruh pesantren tertua di Indonesia menggunakan kitab-kitab standar mazhab Syafi’i (seperti Fathul Mu’in atau Safinatun Najah) sebagai kurikulum utama.
Perbedaan dengan Syekh Siti Jenar
Jika Syekh Siti Jenar sering dianggap “melompat” langsung ke sisi batin (hakikat), Imam Syafi’i adalah sosok yang memastikan bahwa tangga pertama (Syariat) harus kokoh terlebih dahulu. Bagi Imam Syafi’i, tidak mungkin seseorang sampai kepada Allah jika aturan dasar-Nya (fiqh) diabaikan.
Kata Mutiara Imam Syafi’i: “Jika kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah, maka peganglah Sunnah itu dan tinggalkan pendapatku.”
