Konsep “Suluk Kesadaran Burung” yang dikaitkan dengan Syekh Siti Jenar seringkali muncul dalam diskusi tentang ajaran tasawufnya yang kontroversial. Namun, penting untuk dicatat bahwa istilah “Suluk Kesadaran Burung” ini kemungkinan besar merupakan interpretasi atau analogi modern untuk menjelaskan pemikiran Syekh Siti Jenar, yang seringkali digambarkan dalam konteks ajaran mistis dan simbolik.
Syekh Siti Jenar sendiri tidak secara eksplisit menuliskan teks berjudul “Suluk Kesadaran Burung”. Sebaliknya, konsep ini lebih banyak mengacu pada:
- Pengaruh “Mantiq at-Tayr” (Musyawarah Burung) karya Fariduddin Attar: Ini adalah sebuah wirid atau puisi sufistik klasik Persia yang menceritakan perjalanan sekelompok burung mencari raja mereka, Simurgh. Perjalanan ini adalah alegori (kiasan) bagi perjalanan seorang salik (pencari spiritual) menuju Tuhan. Setiap burung mewakili sifat-sifat manusia dan tantangan yang harus dihadapi dalam perjalanan spiritual.
- Metafora untuk Ma’rifat dan Hakikat: Ajaran Syekh Siti Jenar sangat menekankan pada pencapaian ma’rifat (pengetahuan hakiki tentang Tuhan) dan hakikat (kebenaran sejati), yang melampaui syariat (hukum formal agama) dan tarekat (jalan spiritual). “Kesadaran burung” bisa diartikan sebagai pencapaian kesadaran batin yang tinggi, di mana seseorang merasa menyatu dengan Tuhan (konsep wahdatul wujud atau manunggaling kawula Gusti), seolah-olah “terbang” melampaui batasan-batasan duniawi dan memahami rahasia ilahi.
Analogi dengan “Mantiq at-Tayr” dan Hubungannya dengan Siti Jenar
Jika kita mengaitkan “Suluk Kesadaran Burung” dengan “Mantiq at-Tayr”, maka konteksnya akan seperti ini:
- Pencarian Sang Raja (Tuhan): Para burung (manusia) memulai perjalanan spiritual yang panjang dan sulit untuk menemukan Simurgh (Tuhan). Ini melambangkan usaha keras seorang salik dalam mencapai ma’rifatullah.
- Melampaui Diri (Fana’): Dalam perjalanan, banyak burung yang gugur atau menyerah karena kesulitan dan godaan duniawi. Ini melambangkan proses fana’ (meleburkan diri dari sifat-sifat keduniaan dan ego) yang harus dilalui seorang sufi.
- Penemuan Hakikat Diri (Baqa’): Pada akhirnya, hanya sekelompok kecil burung yang berhasil mencapai tujuan. Ketika mereka tiba, mereka menyadari bahwa Simurgh adalah refleksi dari diri mereka sendiri (Si-murgh berarti “tiga puluh burung” dalam bahasa Persia). Ini adalah simbol dari kesadaran bahwa Tuhan tidak terpisah dari eksistensi, melainkan hadir dalam diri dan segala ciptaan. Dalam konteks Siti Jenar, ini bisa diinterpretasikan sebagai kesadaran Manunggaling Kawula Gusti, di mana hamba (burung) menemukan Gustinya (Simurgh) ada dalam dirinya sendiri.
Kesadaran Burung sebagai Simbolisme Siti Jenar
Bagi Syekh Siti Jenar, “kesadaran burung” mungkin melambangkan:
- Pencapaian Tingkat Hakikat: Bahwa seseorang telah mencapai tingkat pemahaman spiritual tertinggi, di mana ia tidak lagi terikat pada bentuk-bentuk lahiriah ibadah, melainkan langsung merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.
- Kebebasan dari Ikatan Duniawi: Seperti burung yang terbang bebas di angkasa, ia tidak lagi terikat pada syariat yang dianggapnya “kulit” bagi mereka yang telah mencapai “isi” atau hakikat.
- Pengalaman Mistis Langsung: Bahwa ia telah mengalami penyatuan atau kedekatan yang sangat intens dengan Tuhan, yang melampaui penjelasan rasional atau logis.
Kontroversi di Balik Simbolisme Ini
Justru di sinilah letak kontroversi utama ajaran Syekh Siti Jenar. Wali Songo dan ulama lainnya khawatir bahwa interpretasi Manunggaling Kawula Gusti secara harfiah, atau penekanan pada hakikat yang mengabaikan syariat, akan menyebabkan kesesatan akidah dan moral di kalangan masyarakat awam.
Mereka berpendapat bahwa ajaran tasawuf tingkat tinggi yang simbolis seperti “kesadaran burung” atau wahdatul wujud hanya cocok untuk mereka yang sudah memiliki dasar syariat yang kuat dan pemahaman spiritual yang mendalam. Mengajarkannya secara terbuka tanpa bimbingan yang tepat dapat menimbulkan pemahaman bahwa “saya adalah Tuhan” secara literal, yang jelas bertentangan dengan prinsip tauhid dalam Islam.
Jadi, “Suluk Kesadaran Burung Syekh Siti Jenar” bukan sebuah kitab atau suluk yang berdiri sendiri, melainkan sebuah cara untuk memahami atau menggambarkan inti dari ajaran mistis Syekh Siti Jenar yang sangat personal, mendalam, dan kontroversial, seringkali melalui kiasan dan simbolisme yang diambil dari tradisi sufi yang lebih luas.
